ROMO KEFAS: DITEMPA OLEH LUKA, DIBENTUK OLEH KASIH KARUNIA
Kesaksian Hidup Seorang Anak Sulung yang Menemukan Makna Pelayanan di Tengah Pergumulan
Berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi, 22 Juni 2026
Ketika Air Mata Menjadi Bahasa Tuhan
Bogor – Tidak semua kehidupan ditulis dengan jalan yang mulus. Ada kisah yang dibentuk melalui kehilangan, kegagalan, penderitaan, bahkan pergumulan yang nyaris merenggut kehidupan. Namun justru melalui jalan yang tidak mudah itulah seseorang sering kali menemukan tujuan hidupnya.
Demikianlah perjalanan Kefas Hervin Devananda, S.Th., atau yang akrab dikenal sebagai Romo Kefas. Di balik perannya sebagai rohaniwan, jurnalis senior, aktivis sosial, advokat masyarakat, dan pemimpin organisasi, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana Tuhan membentuk seorang manusia melalui berbagai musim kehidupan.
Ketika berbincang dengan Redaksi pada 22 Juni 2026, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-52, ia tidak banyak berbicara tentang jabatan maupun penghargaan. Yang lebih banyak ia ceritakan adalah bagaimana Tuhan setia menyertainya ketika jalan hidup terasa begitu berat.
Anak Sulung yang Ditempa Kehidupan
Lahir di Jakarta, 22 Juni 1974, Romo Kefas merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Sejak kecil ia memahami bahwa menjadi anak pertama berarti memikul tanggung jawab yang lebih besar daripada saudara-saudaranya.
Masa pendidikannya ditempuh di SDN Bekasi Jaya Indah (1988), SMP Ananda Bekasi (1991), dan SMEA Patriot Bekasi (1994). Kehidupan yang sederhana mengajarkannya arti kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan pengorbanan.
Sebelum dikenal sebagai rohaniwan dan jurnalis, ia mengawali karier di dunia industri sebagai Staf Accounting PT Pelita Enamelware (1994–1997). Setelah itu ia dipercaya menangani bidang Electronic Data Processing (EDP) hingga kemudian menjadi Sales Senior. Namun di balik pekerjaannya, ia merasakan ada panggilan Tuhan yang terus bertumbuh dalam hatinya.
Sejak 1991 hingga 1999, Romo Kefas aktif memimpin Pemuda GKII El Shadday Bekasi. Pelayanan tersebut menjadi fondasi yang membentuk karakter kepemimpinannya. Kerinduan untuk melayani semakin diperdalam ketika ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Victory Jakarta, hingga akhirnya meraih gelar Sarjana Teologi (S.Th.) pada tahun 2012.
“Saya percaya Tuhan tidak pernah memanggil orang yang sempurna. Dia membentuk orang biasa melalui proses yang tidak selalu mudah.”
Pena sebagai Alat Pelayanan
Tahun 2006 menjadi titik balik kehidupannya. Ia memutuskan meninggalkan dunia perusahaan dan memasuki dunia jurnalistik.
Kariernya dimulai sebagai wartawan Majalah Fire Magazine (2006), kemudian Tabloid Bersih (2007–2009), Tabloid Pelita Kota (2010–2013), hingga akhirnya dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara sejak tahun 2019.
Baginya, menjadi wartawan bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan kebenaran.
“Media bukan sekadar bisnis. Media adalah amanah. Wartawan bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi penjaga hati nurani masyarakat.”
Melalui dunia pers, ia terus menyuarakan keadilan, keberagaman, toleransi, dan kepentingan masyarakat kecil.
Pelayanan yang Tidak Pernah Berhenti di Mimbar
Bagi Romo Kefas, gereja bukan hanya sebuah bangunan. Gereja adalah kehadiran umat Tuhan di tengah masyarakat.
Karena keyakinan itulah ia aktif di berbagai organisasi pelayanan, kemasyarakatan, profesi, dan advokasi.
Ia pernah dipercaya sebagai:
- Ketua Pemuda GKII El Shadday Bekasi (1991–1999).
- Ketua DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Bekasi (2010–2016).
- Sekretaris Jenderal LSM Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI) (2012–2016).
- Ketua Presidium Masyarakat Kristen Bekasi (2004–sekarang).
- Dewan Pakar Asosiasi Jurnalis Warga Indonesia (AJWI) Kabupaten Bogor (2020–2025).
- Ketua Pengurus Daerah (PD) PEWARNA Indonesia Jawa Barat (2021–2026).
- Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PEWARNA Indonesia, yang memberikan pendampingan hukum bagi insan pers dan masyarakat.
Melalui organisasi-organisasi tersebut, ia aktif memperjuangkan kebebasan pers, memperkuat toleransi antarumat beragama, melakukan advokasi hukum, membangun jaringan pelayanan, serta mendorong pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, pelayanan bukan hanya berbicara tentang berkhotbah.
“Pelayanan adalah ketika kita hadir bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Iman harus terlihat melalui tindakan nyata.”
Pengabdian Melalui Jalur Politik
Keinginannya melayani masyarakat juga membawanya memasuki dunia politik.
Pada Pemilu 2024, Romo Kefas maju sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Daerah Pemilihan Kota Bekasi dan Kota Depok.
Ia mengusung berbagai gagasan, antara lain memperjuangkan kesetaraan hak warga negara, memperkuat pendidikan nasional, meningkatkan perhatian terhadap guru agama minoritas di sekolah negeri, serta mendorong pengembangan UMKM berbasis teknologi.
Baginya, politik bukan tujuan akhir, melainkan salah satu sarana untuk mengabdi kepada masyarakat.
Ketika Maut Datang Berturut-turut
Perjalanan hidup Romo Kefas tidak hanya diwarnai pelayanan dan pengabdian. Dalam waktu kurang dari satu tahun, ia harus menghadapi tiga peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya.
Pada 11 Maret 2023, ia menjadi korban pembegalan di kawasan Gunung Putri, Bogor. Tubuhnya mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam dan beberapa luka tusuk.
Belum sepenuhnya pulih, pada 4 September 2023, ia mengalami serangan jantung hingga harus dirawat secara intensif. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter melakukan pemasangan ring jantung pada 4 Oktober 2023.
Cobaan belum berhenti. Pada 4 Januari 2024, kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di ruas Tol Jagorawi.
Ketiga peristiwa itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Saya pernah bertanya mengapa semua ini terjadi. Tetapi akhirnya saya mengerti bahwa Tuhan tidak selalu mengangkat kita dari badai. Kadang Dia justru menguatkan kita untuk melewatinya. Dari situlah saya belajar bahwa setiap luka dapat menjadi kesaksian.”
Keluarga, Tempat Pulang
Di balik seluruh aktivitasnya, keluarga tetap menjadi tempat ia memperoleh kekuatan.
Bersama istrinya, Tri Satini, dan putra mereka, Vickent Highlander, ia belajar bahwa kasih, doa, dan kebersamaan keluarga merupakan anugerah terbesar yang Tuhan berikan.
Keluarga menjadi alasan untuk tetap bangkit ketika tubuh melemah, tetap tersenyum ketika hati terluka, dan tetap berharap ketika keadaan terasa berat.
Hidup yang Menjadi Kesaksian
Menjelang akhir wawancara, Romo Kefas menyampaikan sebuah pesan yang menjadi pegangan hidupnya.
“Jangan pernah menyerah kepada keadaan. Selama Tuhan masih memberikan napas, berarti masih ada rencana-Nya yang belum selesai. Saya percaya hidup ini bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi tentang seberapa besar hidup kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.”
Perjalanan hidup Romo Kefas membuktikan bahwa iman bukanlah jaminan seseorang terbebas dari penderitaan. Sebaliknya, iman memberi kekuatan untuk tetap berdiri ketika penderitaan datang.
Dari seorang anak sulung di Bekasi, menjadi pekerja kantoran, rohaniwan, jurnalis, pemimpin organisasi, aktivis sosial, pejuang keadilan, hingga penyintas berbagai pergumulan hidup, ia meyakini bahwa setiap proses yang Tuhan izinkan selalu memiliki maksud yang baik.
Bagi Romo Kefas, hidup bukan sekadar perjalanan meraih keberhasilan. Hidup adalah kesempatan untuk melayani, membela kebenaran, menguatkan yang lemah, dan menjadi saluran kasih Tuhan bagi sesama.
“Selama Tuhan masih memberi napas, berarti kisah yang sedang Dia tulis dalam hidup saya belum selesai. Saya ingin setiap langkah yang tersisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.”
Ditulis berdasarkan penuturan narasumber kepada Redaksi pada 22 Juni 2026.

