Romo Kefas: Kepemimpinan yang Tumbuh dari Tanggung Jawab, Bukan Ambisi
Bogor, 02 Maret 2026 – Dalam banyak kasus, kepemimpinan lahir dari jabatan. Namun bagi Kefas Hervin Devananda, atau yang dikenal sebagai Romo Kefas, kepemimpinan justru tumbuh dari tanggung jawab yang datang lebih awal dalam hidupnya.
Lahir di Jakarta pada 22 Juni 1974 dan dibesarkan di Bekasi, Romo Kefas tidak memulai hidup dengan kemapanan. Kehilangan ayah pada tahun 1986 menjadikannya, sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, berada di posisi yang menuntut kedewasaan sebelum waktunya. Ibunya yang berjualan nasi uduk untuk menopang keluarga menjadi simbol ketahanan yang membentuk wataknya.
Pengalaman itu tidak menjadikannya keras, tetapi menjadikannya sadar. Sadar bahwa hidup memerlukan arah. Sadar bahwa tanggung jawab tidak boleh dihindari.
Sejak remaja, Romo Kefas aktif sebagai aktivis dan penggiat budaya. Ia melihat budaya sebagai fondasi identitas bangsa dan ruang membangun kesadaran kolektif. Dalam aktivitasnya, ia mengedepankan nilai kesetaraan—bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk dihargai, didengar, dan diperlakukan adil.
Kesetaraan baginya bukan sekadar konsep sosial, melainkan prinsip hidup. Ia percaya bahwa hukum harus berdiri di atas semua golongan, bahwa kebebasan beragama adalah hak konstitusional, dan bahwa demokrasi hanya bermakna jika suara minoritas tetap terlindungi.
Masuk ke dunia jurnalistik, Romo Kefas tidak memisahkan idealismenya dari praktik. Ia memandang pers sebagai penjaga keseimbangan antara kekuasaan dan masyarakat. Transparansi dan akuntabilitas, menurutnya, bukan alat menyerang, melainkan alat menjaga legitimasi publik.
Perjalanan organisasinya menunjukkan kesinambungan, bukan lompatan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua PD Pewarna Indonesia Provinsi Jawa Barat dan kini dipercaya sebagai Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pewarna Indonesia. Dalam peran tersebut, ia mendorong profesionalisme hukum dan penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah.
Namun pendekatannya bukan konfrontatif. Ia lebih memilih memperkuat sistem daripada membangun narasi perlawanan emosional. Baginya, perubahan yang bertahan lama lahir dari pendidikan nilai dan konsistensi tindakan.
Kini menetap di Bogor bersama keluarga, ia tetap menempatkan rumah sebagai pusat pembentukan integritas. Ia percaya bahwa seseorang tidak bisa berbicara tentang keadilan di luar jika tidak menjaga komitmen di dalam.
Romo Kefas bukan figur yang dibangun oleh gelombang isu.
Ia dibentuk oleh tanggung jawab, dipelihara oleh nilai, dan diuji oleh waktu.
Dalam dunia yang mudah terpolarisasi, ia memilih berdiri pada prinsip—
tenang, terukur, dan konsisten.
Dan mungkin justru di situlah letak kekuatannya. (*)
