TeropongKebenaran.online Di zaman sekarang, berbicara tentang Tuhan menjadi hal yang mudah. Media sosial dipenuhi kutipan rohani, ayat Alkitab, motivasi iman, bahkan konten-konten religius yang terlihat menguatkan. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan:
Apakah iman itu benar-benar hidup di dalam hati, atau hanya ramai di bibir?
Banyak orang mengenal nama Tuhan, tetapi tidak sungguh mengenal hati-Nya. Ada yang aktif dalam kegiatan rohani, tetapi hidupnya tetap dikuasai kebencian, kesombongan, iri hati, dan kepalsuan. Ada yang terlihat religius di depan umum, tetapi kehilangan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah sebabnya Rasul Paulus berkata:
“Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita…”
Paulus sedang mengingatkan bahwa inti kekristenan bukan sekadar ritual keagamaan. Inti iman Kristen adalah Yesus Kristus sendiri.
Kekristenan bukan tentang seberapa banyak simbol agama yang dimiliki seseorang, melainkan apakah hidupnya sungguh diubahkan oleh Kristus.
“Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia…”
Kalimat ini berbicara tentang kasih Allah yang luar biasa. Allah tidak tinggal diam melihat manusia terhilang dalam dosa. Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
Secara teologis, ini disebut inkarnasi: Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.
Dan di situlah kekristenan berbeda dari sekadar moralitas agama. Injil bukan cerita tentang manusia yang berhasil naik mencari Tuhan, tetapi tentang Tuhan yang turun menjangkau manusia.
Ada sebuah kisah sederhana namun sangat dalam.
Seorang anak kecil jatuh ke sungai deras. Banyak orang berdiri di tepi sungai sambil berteriak memberi petunjuk:
“Pegang batu!”
“Berenang ke kanan!”
“Jangan panik!”
Namun arus terlalu kuat.
Sampai akhirnya ayahnya sendiri melompat ke sungai, memeluk anak itu, lalu membawanya keluar.
Itulah gambaran Injil.
Manusia tidak cukup hanya diberi nasihat tentang kebaikan. Manusia membutuhkan Juruselamat yang datang menyelamatkan hidupnya. Dan Kristus telah melakukan itu melalui salib dan kebangkitan-Nya.
Namun sayangnya, dunia modern sering mengubah iman menjadi sekadar pencitraan. Orang ingin terlihat rohani, tetapi tidak mau hidup dalam pertobatan. Ingin disebut dekat dengan Tuhan, tetapi tidak mau menyangkal ego dan dosa.
Padahal Yesus tidak pernah mencari pengikut yang hanya pandai berbicara rohani. Yesus mencari hati yang sungguh mengasihi-Nya.
Ada pribahasa Jawa yang sangat tajam:
“Ajining diri saka lathi.”
Artinya: Harga diri seseorang terlihat dari perkataannya.
Tetapi dalam iman Kristen, bukan hanya kata-kata yang penting. Hidup seseorang juga harus menjadi kesaksian tentang Kristus.
Karena itu iman sejati bukan hanya tentang berkata “Tuhan, Tuhan,” tetapi tentang hidup yang memancarkan kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan kebenaran.
“Dibenarkan dalam Roh…”
Kebangkitan Kristus menjadi bukti bahwa Yesus benar-benar Tuhan yang hidup. Salib bukan kekalahan, melainkan kemenangan atas dosa dan maut.
Dan karena Kristus hidup, orang percaya memiliki pengharapan yang hidup pula.
Ada pribahasa Jawa lain yang sangat dalam:
“Urip iku urup.”
Artinya: Hidup harus menjadi terang dan memberi manfaat.
Iman Kristen yang sejati seharusnya membuat hidup seseorang menjadi terang bagi orang lain. Bukan membawa kebencian, melainkan kasih. Bukan memperbesar perpecahan, melainkan menghadirkan damai.
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang pandai bicara tentang Tuhan. Dunia membutuhkan orang yang hidupnya benar-benar mencerminkan Kristus.
Karena itu, jangan hanya sibuk membangun citra rohani di luar, tetapi biarkan Tuhan mengubahkan hati di dalam.
Sebab pada akhirnya, iman yang sejati bukanlah iman yang paling ramai terdengar, melainkan iman yang paling nyata terlihat melalui kehidupan yang diubahkan oleh kasih Kristus.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
alias Romo Kefas
