Seminar “Disciples Movement” di Sidang GGP Riau Tekankan Gereja Harus Membangun Manusia, Bukan Sekadar Program
Riau — Sidang Pelengkap Daerah Gerakan Gereja Pentakosta (GGP) wilayah Riau yang berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026, tidak hanya menjadi agenda konsolidasi organisasi gereja, tetapi juga berkembang menjadi ruang refleksi pelayanan mengenai arah gereja di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Melalui seminar dan workshop bertema “Disciples Movement”, para pelayan Tuhan dan pengurus gereja diajak melihat kembali esensi pelayanan gereja yang bukan hanya berpusat pada kegiatan dan struktur organisasi, tetapi pada pembangunan kehidupan rohani jemaat dan regenerasi pelayanan.
Kegiatan yang berlangsung di GGP Imamat Rajani, Riau, itu dibawakan oleh Pdt. DR. James Dinata, M.Th., bersama Coach Chandra Kuosasih, dan dihadiri oleh:
- Pengurus MADA Riau,
- Ketua Majelis Wilayah 1 Pdt. Jonli Sumaraw,
- Ketua Majelis Wilayah 2 Pdt. Willy Hendra Damanik,
- Majelis Jemaat,
- Majelis Pusat termasuk Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th. serta Ketua I Majelis Pusat Pdt. Sularto,
- dan para peninjau.
Sejak sesi awal dimulai, seminar berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh interaksi. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak membahas kondisi nyata pelayanan gereja yang saat ini menghadapi tantangan generasi, perubahan sosial, hingga menurunnya kedekatan jemaat dengan kehidupan rohani.
Dalam pemaparannya, Pdt. DR. James Dinata menegaskan bahwa gereja harus kembali menempatkan pemuridan sebagai inti pelayanan, bukan hanya pelengkap kegiatan.
“Gereja bisa memiliki banyak program, tetapi tanpa pemuridan yang kuat gereja akan kehilangan arah dan kehilangan generasi,” ujarnya.
Menurutnya, gereja masa kini membutuhkan pola pelayanan yang lebih membina, lebih dekat dengan jemaat, dan lebih fokus membentuk karakter kehidupan rohani dibanding sekadar membangun aktivitas seremonial.
Ia juga menyoroti pentingnya gereja membangun hubungan yang sehat antara pemimpin rohani, jemaat, dan generasi muda agar pelayanan tidak terputus oleh perubahan zaman.
Sementara itu, Coach Chandra Kuosasih menilai bahwa tantangan pelayanan terhadap generasi muda saat ini tidak dapat dihadapi dengan pendekatan lama semata.
Menurutnya, gereja harus mampu menghadirkan pelayanan yang komunikatif, kreatif, dan menyentuh kehidupan generasi sekarang tanpa kehilangan dasar Firman Tuhan.
“Generasi muda tidak cukup hanya diberi kegiatan, tetapi harus dibangun kehidupannya, didampingi, dan diarahkan supaya memiliki karakter rohani yang kuat,” katanya.
Workshop kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai pola pemuridan gereja, penguatan keluarga, kepemimpinan jemaat, pelayanan anak dan remaja, hingga tantangan gereja menghadapi era digital dan media sosial.
Ketua Umum GGP, Pdt. Dicky Suwarta, dalam arahannya mengingatkan bahwa gereja harus terus bertumbuh secara sehat dan tidak terjebak hanya pada pertumbuhan organisasi.
“Yang paling penting bukan hanya banyaknya kegiatan, tetapi apakah gereja berhasil membangun kehidupan jemaat yang bertumbuh, mengasihi Tuhan, dan siap melayani,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua MADA Riau, Pdt. Sofian Runtu, S.Th., menyampaikan bahwa Sidang Pelengkap Daerah kali ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi pelayanan gereja di wilayah Riau.
“Kami ingin gereja tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi benar-benar kuat dalam pemuridan, pelayanan, dan kehidupan rohani jemaat,” katanya.
Suasana seminar yang dipenuhi diskusi, pertukaran pengalaman pelayanan, dan semangat kebersamaan memperlihatkan adanya kesadaran bahwa gereja saat ini membutuhkan pola pelayanan yang lebih membangun manusia daripada sekadar menjalankan rutinitas.
Melalui seminar dan workshop “Disciples Movement”, GGP Riau kembali menegaskan komitmennya membangun gereja yang kuat dalam pemuridan, sehat dalam pelayanan, dan mampu mempersiapkan generasi pelayan yang tangguh menghadapi tantangan masa depan.
Jurnalis : Romo Kefas
Editor : Tim Redaksi

