IBADAH DAN GAYA HIDUP
Ibadah sering kali tampil sebagai wajah yang paling mudah kita banggakan. Ia terlihat rapi dalam tampilan, fasih dalam doa, dan disiplin dalam jadwal. Namun di sanalah jebakan halus itu bekerja. Sebab ibadah, jika hanya berhenti pada gerak dan suara, dapat berubah menjadi cermin kepuasan diri, bukan cahaya yang menuntun jiwa.
Yang kerap luput kita periksa bukanlah seberapa banyak amal dilakukan, melainkan ke mana arah hati berjalan saat perbuatan baik itu dikerjakan.
Hati adalah ruang paling jujur sekaligus paling licik. Ia bisa berdiri di saf terdepan, namun pikirannya berkelana mengejar dunia. Ia bisa menunduk dalam sujud, tetapi diam-diam berharap pujian manusia.
Maka pertanyaan terpenting bukanlah:
“Sudahkah aku beribadah?”
melainkan:
“Bersama siapa hatiku ketika beribadah?”
Apakah ia hadir penuh di hadapan Allah, atau sibuk menimbang citra, keuntungan, dan rasa aman semu?
Ibadah sejati bukan tentang menambah jarak dengan sesama, tetapi tentang mengikis jarak antara hamba dan Tuhannya. Ketika hati benar-benar bersama Allah, ibadah melahirkan kerendahan, kejujuran, dan kasih. Tanpanya, ibadah hanya menjadi rutinitas yang sunyi makna — ramai di luar, kosong di dalam.
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Roma 12:1
Selamat beraktivitas di akhir pekan, dalam perkenan-Nya.
STAY in GOD
Jaga kesehatan, tetap semangat dan antusias.
Kiranya Tuhan Yesus melimpahkan rahmat-Nya senantiasa kepada kita semua.
Selamat menikmati divine breakthrough, divine solution, divine resolution dan divine fission
Abah Daniel
