PASAR MENJADI LADANG PELAYANAN
Kesaksian Nyata PS Alfeus di Bintulu
(Disampaikan kepada Meja Redaksi)
BINTULU, SARAWAK — Bagi PS Alfeus, pelayanan bukan sekadar kegiatan gereja, melainkan gaya hidup yang dijalani setiap hari. Hamba Tuhan yang melayani di Bintulu, Sarawak ini kembali membagikan pengalaman pelayanannya di tengah hiruk pikuk pasar.
Setelah mengantar anak ke sekolah, beliau menyempatkan diri mengunjungi pasar. Di tengah aktivitas jual beli dan kesibukan para pedagang, ia kembali berjumpa dengan saudara-saudara seiman yang sudah beberapa bulan tidak bertemu.
Pertemuan itu menjadi momen penuh makna. Beberapa dari mereka meminta didoakan. Ada yang sedang bergumul dengan usaha yang menurun, ada yang menghadapi tekanan ekonomi keluarga, dan ada pula yang membutuhkan penguatan iman.
“Pelayanan tidak harus menunggu di mimbar,” tutur PS Alfeus kepada Meja Redaksi. “Di pasar pun Tuhan bekerja.”
Di sela-sela kesibukan, doa dinaikkan dengan sederhana namun penuh iman. Tidak panjang, tidak formal, tetapi lahir dari hati yang tulus. Selain berdoa, beliau juga memberikan dorongan semangat agar mereka tetap kuat dan tidak kehilangan pengharapan.
Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:10 menjadi pegangan dalam setiap langkah pelayanannya:
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Menurut PS Alfeus, pasar mengajarkan bahwa banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi menyimpan beban di dalam hati. Kehadiran, perhatian, dan doa sering kali menjadi penguatan yang sangat berarti.
Pengalaman itu kembali meneguhkan satu kebenaran: setiap tempat dapat menjadi ladang pelayanan. Pasar bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga tempat kasih Tuhan dinyatakan.
“Selama Tuhan memberi kesempatan,” tutupnya, “saya akan terus melayani di mana pun saya berada.”
Puji Tuhan.
