Iman Tidak Boleh Setengah Jalan: Romo Kefas Ingatkan Makna Paskah yang Sering Disalahpahami
Bogor, 03 April 2026 – Banyak orang merayakan Jumat Agung dan Paskah setiap tahun. Namun, tidak semua benar-benar memahami maknanya. Di tengah rutinitas perayaan yang kerap menjadi formalitas, muncul pertanyaan mendasar: apakah iman hanya berhenti pada seremoni, atau benar-benar menjadi kekuatan yang mengubah hidup?
Evangelis Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th., M.Pd.K, atau yang dikenal sebagai Romo Kefas, menilai bahwa salah satu persoalan terbesar dalam kehidupan iman saat ini adalah pemahaman yang tidak utuh tentang salib dan kebangkitan.
Dalam wawancara bersama awak media di Bogor, ia menegaskan bahwa banyak orang percaya pada pengorbanan Kristus, tetapi tidak hidup dalam realitas kebangkitan-Nya.
“Iman yang hanya berhenti di salib adalah iman yang belum selesai. Salib memang menyelamatkan, tetapi kebangkitanlah yang memberi kita kehidupan yang baru,” ungkapnya.
Sebagai Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara Group, serta aktivis dan penggiat budaya, juga rohaniawan di GPIAI Filadelfia Bogor, Romo Kefas melihat bahwa kehidupan modern sering kali membuat orang kehilangan arah, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena lemahnya pengalaman iman.
Ia menjelaskan bahwa secara teologis, salib adalah peristiwa penebusan—di mana Kristus mengambil alih hukuman dosa manusia. Namun kebangkitan adalah bukti kemenangan yang mengubah status manusia dari terhukum menjadi memiliki pengharapan.
“Tanpa kebangkitan, salib hanya menjadi simbol penderitaan. Tetapi karena kebangkitan, salib menjadi pintu menuju kemenangan,” tegas Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th., M.Pd.K.
Menurutnya, banyak orang hidup dalam ketakutan, kekhawatiran, dan rasa tidak berdaya, padahal inti iman Kristen justru menawarkan keberanian dan pengharapan.
“Kita sering merasa hidup buntu, seolah tidak ada jalan keluar. Padahal, kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Tuhan sanggup membuka jalan di tempat yang tidak mungkin,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa iman bukan hanya soal percaya secara konsep, tetapi soal mengalami perubahan hidup yang nyata. Orang yang percaya kepada Kristus, katanya, seharusnya menunjukkan kehidupan yang berbeda—lebih kuat, lebih berani, dan penuh pengharapan.
“Iman bukan sekadar keyakinan di pikiran, tetapi kekuatan yang mengubah cara kita hidup. Kalau hidup kita tidak berubah, maka kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar hidup dalam kuasa kebangkitan?” katanya.
Lebih jauh, ia menyoroti tantangan budaya masa kini yang sering kali menarik orang menjauh dari nilai-nilai kebenaran. Namun menurutnya, justru di tengah tekanan itulah iman harus tampil lebih nyata.
“Dunia mungkin berubah, tetapi kebenaran tidak berubah. Justru di tengah perubahan itu, iman harus berdiri lebih teguh,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th., M.Pd.K menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam:
“Selamat memperingati Jumat Agung dan selamat menyambut Paskah 2026. Jangan hanya merayakan, tetapi hiduplah di dalam maknanya. Karena di dalam Kristus yang bangkit, selalu ada harapan yang tidak pernah padam. Tuhan Yesus memberkati.”
Jurnalis: Wanjuntak
