Ketua Dept.Perintisan Jemaat Pedesaan
Pdt.Dr.James Dinata
Spread the love
Sumbagsel, 14 April 2026 – Di tengah banyaknya program dan strategi pelayanan yang terus dikembangkan, Gereja Gerakan Pantekosta (GGP) justru mengangkat satu pertanyaan mendasar: apakah Injil masih hidup, atau hanya sekadar dibicarakan?
Pertanyaan itu mengemuka dalam kunjungan pelayanan yang dipimpin Ketua Umum GGP, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, bersama Ketua Departemen Perintisan Jemaat Pedesaan, Pdt. Dr. James Dinata. Kehadiran mereka disambut oleh Ketua Mada, Pdt. Rullwales, bersama para pelayan dan jemaat di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Alih-alih menghadirkan pendekatan yang rumit, kegiatan bertema “Disciples Movement” ini justru menekankan kesederhanaan—bahwa Injil seharusnya hadir dalam keseharian, bukan hanya di mimbar.
Ketua Dept.Perintisan Jemaat Pedesaan Pdt.Dr.James Dinata
Dalam pemaparannya, Pdt. Dr. James Dinata mengangkat konsep threefold, sebuah cara pandang yang menantang pola pikir umum dalam pelayanan:
bahwa sesuatu yang sudah digenapi (fulfilled) belum tentu terselesaikan (accomplished), dan sesuatu yang telah lengkap (completed) tetap harus dilanjutkan (yet continuing).
Ketua Mada Sumbagsel Pdt.Rullwales
Bagi GGP, ini bukan sekadar istilah teologis, melainkan peringatan bahwa pelayanan tidak boleh berhenti pada pencapaian.
Namun pesan yang paling menggugah justru muncul di luar sesi formal. Saat ditemui tim media di sela-sela kegiatan, Pdt. James menyampaikan refleksi yang lebih tajam.
“Strategi Tuhan seharusnya menjadi gaya hidup kita sebagai murid-murid-Nya. Tetapi yang sering terjadi, kita menjadikannya hanya sebagai kewajiban, bukan sebagai gaya hidup rohani,” katanya.
Bendahara MAda Sumbagsel
Pernyataan ini menyoroti sebuah realitas yang kerap luput disadari: ketika Injil dijadikan program, ia bisa selesai. Tetapi ketika menjadi gaya hidup, ia tidak akan pernah berhenti.
Di titik inilah, Disciples Movement menemukan maknanya. Bukan sekadar gerakan besar, melainkan gerakan kecil yang konsisten—dimulai dari percakapan sederhana, relasi sehari-hari, dan kepekaan terhadap sekitar.
Ketua Umum GGP Pdt Dicky Suwarta MTh
Pesan yang dibawa dari Sumbagsel terasa sederhana, namun memiliki bobot yang dalam: gereja tidak dipanggil untuk sekadar aktif, tetapi untuk tetap hidup.
Dan hidup berarti bergerak.
Bagi wilayah Sumbagsel, momentum ini menjadi lebih dari sekadar kunjungan. Ia menjadi pengingat bahwa apa yang telah dimulai tidak boleh berhenti, dan apa yang sudah berjalan harus terus dilanjutkan.
Karena pada akhirnya, Injil bukan tentang apa yang dirancang,
melainkan tentang apa yang dijalani.