SEPAKAT BERDOA
Pelayanan PS Alfeus di Bintulu
Pelayanan PS Alfeus di tidak hanya berlangsung di mimbar gereja, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat bergumul dan mencari pertolongan Tuhan.
Malam itu, dalam rangka Tahun Baru Cina, beliau diundang makan malam di rumah saudara seiman. Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan. Setelah para tamu lain pulang, tersisa beberapa orang yang masih duduk berbagi cerita karena sudah lama tidak berjumpa.
Percakapan yang awalnya ringan berubah menjadi mendalam ketika seorang ibu dengan hati yang hancur meminta doa khusus. Suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Rumah tangganya berada di ujung kerapuhan.
PS Alfeus tidak langsung berbicara panjang. Ia mendengarkan. Ia memberi ruang bagi ibu tersebut untuk menumpahkan beban hatinya. Setelah itu, beliau mengajak semua yang hadir untuk sepakat berdoa.
Bukan hanya mendoakan sang istri yang terluka, tetapi juga mendoakan suaminya—agar Tuhan menjamah, menegur, dan memulihkan hatinya.
Beliau mengingatkan firman Tuhan dalam 18:19-20:
“Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Di ruang makan sederhana itu, tidak ada protokol ibadah resmi. Namun hadirat Tuhan terasa nyata. Tangan-tangan saling bergandengan. Air mata mengalir. Doa dinaikkan dengan satu hati.
Inilah ciri pelayanan PS Alfeus di Bintulu:
menggembalakan dengan kasih, mendampingi dengan empati, dan percaya penuh pada kuasa doa kesepakatan.
Bagi beliau, pelayanan bukan sekadar berkhotbah di depan jemaat, tetapi hadir di tengah luka umat. Bukan hanya menyampaikan firman, tetapi menghidupi firman dalam tindakan nyata.
Dari ruang makan sederhana di Bintulu, kembali diteguhkan bahwa ketika dua atau tiga orang sepakat dalam nama-Nya, Tuhan hadir dan bekerja.
Dan di situlah pemulihan dimulai.
