PELAYANAN DI KEDAI
Kesaksian PS Alfeus dari Bintulu
(Dituturkan oleh narasumber kepada Meja Redaksi)
BINTULU, SARAWAK — Sebuah pengalaman pelayanan sederhana namun menggugah hati dibagikan oleh PS Alfeus kepada Meja Redaksi. Bagi beliau, pelayanan bukan hanya berlangsung di mimbar gereja, tetapi juga di tempat-tempat yang sering dianggap biasa.
“Pagi itu saya baru saja selesai melakukan pelayanan di pasar,” tutur PS Alfeus yang melayani di . “Setelah itu saya tergerak untuk mengunjungi sebuah kedai kecil tempat orang tua dari salah satu murid saya bekerja.”
Kedai itu tidak besar. Aktivitas jual beli berjalan seperti biasa. Suasana sederhana, tanpa kemewahan. Namun di sanalah pelayanan terjadi.
“Saya datang bukan sebagai tamu yang ingin dihormati, tetapi sebagai hamba yang ingin menguatkan,” lanjutnya.
Di sela-sela melayani pembeli, pemilik kedai mulai bercerita tentang pergumulan hidup, tekanan ekonomi, dan beban keluarga. Percakapan yang awalnya ringan berubah menjadi momen yang penuh kejujuran dan air mata.
PS Alfeus mengaku teringat firman Tuhan dalam 20:28:
“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani…”
“Firman itu terasa sangat nyata di kedai kecil itu,” ungkapnya. “Saya sadar, pelayanan bukan soal tempat yang megah, tetapi hati yang siap hadir.”
Di tengah rak-rak barang dagangan dan suara pembeli yang keluar masuk, doa singkat dinaikkan. Tidak panjang. Tidak formal. Namun penuh iman.
“Kadang orang berpikir pelayanan harus di atas mimbar. Padahal Tuhan bekerja juga di pasar, di kedai, di ruang-ruang sederhana,” katanya.
Bagi PS Alfeus, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk melayani. Bahwa kunjungan sederhana bisa menjadi penguatan besar bagi seseorang yang hampir kehilangan harapan.
“Di kedai kecil itu saya belajar lagi,” tutupnya kepada Meja Redaksi, “bahwa ketika kita mau turun dan hadir, Tuhan sendiri yang bekerja menyentuh hati.”
Pelayanan di Bintulu terus berjalan, bukan hanya melalui khotbah, tetapi melalui langkah kaki yang mau mendatangi, mendengar, dan mendoakan.
Dan dari kedai kecil itu, sebuah kebenaran kembali diteguhkan:
Melayani adalah panggilan setiap hari, di mana pun Tuhan menempatkan kita.

Selamat melayan, iPs Alfeus Adrianus.
Salam dari Kota Tangerang.
Tuhan memberkatumu.