Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Jurnalis Pewarna Indonesia & Bocah Bekasi Utara, Pemred Pelitanusantara.com
BEKASI, TEROPONGKEBENARAN.ONLINE — Dalam politik, tidak semua kemenangan membawa kenyamanan.
Ada kemenangan yang justru menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Kemenangan pasangan Tri Adhianto dan Abdul Harris Bobihoe pada Pilkada 2024 adalah salah satunya.
Berdasarkan hasil rekapitulasi, pasangan ini unggul dengan selisih suara yang relatif tipis—sekitar tujuh ribuan suara dari pesaingnya.
Angka itu bukan sekadar statistik.
Itu adalah pesan politik.
Bahwa kemenangan ini bukan kemenangan yang mutlak, melainkan mandat yang harus dijaga dengan kerja nyata.
Selisih suara yang tidak terlalu jauh menunjukkan satu realitas:
masyarakat Bekasi tidak sepenuhnya satu suara.
Sebagian memberi kepercayaan.
Sebagian lainnya masih menyimpan keraguan.
Artinya, sejak awal, kepemimpinan Tri–Harris tidak hanya dituntut untuk bekerja—
tetapi juga meyakinkan.
Dalam konteks ini, setiap kebijakan bukan hanya dinilai dari niat,
tetapi dari dampaknya terhadap seluruh lapisan masyarakat.
Dalam satu tahun pertama, sejumlah program strategis telah dijalankan.
Program Rp100 juta per RW menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong pembangunan berbasis masyarakat.
Peningkatan insentif RT dan RW memperkuat peran aparatur lingkungan sebagai ujung tombak pelayanan.
Di sektor kesehatan, layanan puskesmas yang lebih dekat dan mudah diakses mulai menunjukkan upaya pemerintah menghadirkan pelayanan yang lebih merata.
Sementara itu, rotasi birokrasi dilakukan untuk mempercepat kinerja pemerintahan.
Semua ini adalah progres.
Semua ini adalah fondasi.
Namun dalam konteks mandat yang tipis, fondasi saja tidak cukup—
yang dibutuhkan adalah perubahan yang benar-benar terasa.
Survei terhadap 800 warga menunjukkan 72,02 persen masyarakat puas terhadap kinerja awal Tri–Harris.
Ini adalah angka yang memberi sinyal positif.
Namun bukan jaminan.
Karena masih ada sekitar 28 persen warga yang belum puas—dan dalam konteks kemenangan yang tipis, angka ini menjadi sangat signifikan.
Artinya, kepercayaan publik masih bersifat dinamis.
Bisa menguat.
Tapi juga bisa melemah—jika tidak dirawat dengan baik.
Di tengah berbagai program, persoalan klasik masih bertahan:
Banjir yang terus berulang.
Jalan rusak yang belum merata diperbaiki.
Pasar tradisional yang belum optimal.
Sampah Bantargebang yang masih menjadi persoalan besar.
Ini bukan sekadar isu teknis.
Ini adalah ujian kepemimpinan.
Karena publik tidak lagi menilai apakah pemerintah bekerja—
tetapi apakah pemerintah menyelesaikan masalah.
Bekasi adalah kota yang plural.
Selama ini, stabilitas sosial relatif terjaga.
Namun stabilitas bukan tujuan akhir.
Keadilan adalah tujuan sebenarnya.
Dan keadilan harus hadir dalam kebijakan yang nyata—
bukan hanya dalam narasi.
Salah satu bentuk paling konkret dari keadilan adalah di sektor pendidikan.
Pemerintah Kota Bekasi perlu memastikan:
ketersediaan guru agama sesuai keyakinan setiap siswa di sekolah negeri.
Ini bukan sekadar kebijakan tambahan.
Ini adalah pemenuhan hak konstitusional warga negara.
Pelaksanaannya harus:
- berbasis data riil
- dijalankan secara konsisten
- berada di bawah pengawasan langsung pemerintah kota
Di sinilah negara diuji:
apakah benar-benar hadir untuk semua.
Satu tahun pertama adalah fase fondasi.
Namun bagi kepemimpinan dengan kemenangan yang tipis, waktu tidak banyak.
Tahun kedua akan menjadi penentu:
- apakah kepercayaan publik menguat
- atau justru mulai tergerus
Tri–Harris tidak cukup berjalan.
Mereka harus melangkah lebih cepat dan lebih berani.
Sebagai warga Bekasi Utara, tepatnya di Kelurahan Harapan Baru, saya melihat satu hal yang sederhana:
Dukungan masyarakat saat Pilkada itu nyata.
Dan sampai hari ini, dukungan itu masih ada.
Namun dukungan tidak akan bertahan selamanya—
jika tidak dijaga dengan hasil nyata.
Selisih suara yang tipis bukan kelemahan—
jika dijawab dengan kepemimpinan yang kuat.
Namun bisa menjadi masalah—
jika diabaikan.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa selisih kemenangan—
tetapi akan mencatat satu hal:
apakah kepemimpinan ini mampu menjawab harapan, atau justru menyia-nyiakannya.
