JAKARTA — Tidak semua cerita tentang Ramadan hadir dalam sorotan kamera. Sebagian justru terjadi dalam kesunyian—di sela tugas, di balik deadline, dan di antara langkah para jurnalis yang terus bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Di tengah ritme itulah, sebuah ruang jeda tercipta.
Yayasan Permata Sanny Peduli bersama Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia (YPJI) menyalurkan 100 paket sembako Lebaran kepada jurnalis di Jakarta. Bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan sebuah momen yang mengubah posisi: dari yang biasa memberi kabar, menjadi yang menerima perhatian.
Bagi sebagian wartawan, bantuan ini mungkin sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang lebih dalam—bahwa profesi ini tidak dilupakan.
Pendiri Permata Sanny Peduli, Permata Warokka, menegaskan bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan, termasuk mereka yang bekerja di garis informasi.
“Jurnalis selalu hadir untuk masyarakat. Sudah seharusnya ada momen di mana mereka juga merasakan perhatian yang sama,” ujarnya.
Di sisi lain, YPJI melihat kegiatan ini sebagai pengikat yang memperkuat rasa kebersamaan di antara para jurnalis. Ketua Umum YPJI, Andi Arif, menyebut bahwa solidaritas adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari profesi ini.
“Kita terbiasa berdiri sendiri di lapangan. Tapi melalui kegiatan seperti ini, kita diingatkan bahwa kita sebenarnya tidak sendiri,” katanya.
Suasana hangat juga terasa saat pembagian berlangsung. Sekretaris Umum YPJI, Indrawan Ibonk, menggambarkan bagaimana para jurnalis hadir bukan hanya untuk menerima bantuan, tetapi juga untuk saling bertemu dan berbagi cerita.
“Ada energi kebersamaan yang muncul. Ini bukan hanya soal paket sembako, tapi soal rasa saling memiliki,” ujarnya.
Namun langkah kepedulian ini tidak berhenti di kalangan jurnalis. Di penghujung Ramadan, Permata Sanny Peduli juga menyalurkan sekitar 700 paket bantuan kepada masyarakat rentan di Jakarta, Bekasi, Bandung, dan Tangerang melalui kolaborasi dengan Scholars of Sustenance (SOS) Indonesia.
Distribusi tersebut menyasar keluarga prasejahtera—mereka yang sering kali menghadapi Ramadan dengan keterbatasan, namun tetap menjaga harapan.
Bagi Permata, makna Ramadan justru terlihat dari hal-hal seperti ini.
“Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa peka kita terhadap sekitar,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan profesi yang tak mengenal waktu, kegiatan ini menjadi pengingat sederhana: bahwa di balik setiap berita yang ditulis, ada manusia yang juga membutuhkan perhatian.
Dan mungkin, di situlah Ramadan menemukan maknanya—bukan dalam kemewahan, tetapi dalam rasa cukup yang dibagikan.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
