Malaka | TeropongKebenaran.online — Di wilayah perbatasan, mendapatkan layanan kesehatan bukan perkara mudah. Bagi sebagian warga, terutama lansia, jarak dan keterbatasan fisik menjadi penghalang utama untuk sekadar memeriksakan diri.
Kondisi inilah yang membuat Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad harus turun langsung dari rumah ke rumah di Dusun Motamasin, Desa Alas Selatan, Kecamatan Kobalima Timur, Rabu (25/03/2026).
Metode door to door yang dilakukan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ketika masyarakat tidak mampu menjangkau layanan, maka layanan yang harus mendekat.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara langsung—mulai dari pengecekan tekanan darah hingga pemberian obat sesuai kondisi warga. Pendekatan ini memastikan lansia tetap mendapatkan perhatian medis, meski berada jauh dari fasilitas kesehatan.
Danpos Haslot, Pelda Anang Yuliawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar tidak ada warga yang terabaikan.
“Kami ingin memastikan mereka tetap terlayani, meskipun akses terbatas,” ujarnya.
Namun di balik kegiatan ini, muncul realita yang tidak bisa diabaikan: akses kesehatan di wilayah perbatasan masih menjadi persoalan mendasar.
Kehadiran satgas memang menjawab kebutuhan jangka pendek. Tetapi pertanyaannya, apakah sistem pelayanan kesehatan di wilayah tersebut sudah benar-benar siap menjangkau seluruh lapisan masyarakat?
Fenomena ini menjadi cerminan bahwa pelayanan publik tidak selalu hadir secara merata. Di beberapa wilayah, kehadiran negara justru harus “dijemput” atau bahkan “diantarkan langsung” kepada masyarakat.
Langkah yang dilakukan Satgas Yonarmed 12 Kostrad patut diapresiasi. Namun, lebih dari itu, dibutuhkan solusi berkelanjutan agar pelayanan kesehatan tidak bergantung pada kondisi tertentu.
Di perbatasan, kebutuhan masyarakat bukan sekadar layanan sesaat, melainkan kepastian bahwa mereka tidak tertinggal.
Dan di sanalah, kualitas pelayanan publik benar-benar diuji.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi TeropongKebenaran.online
