Pasangkayu, 31 Maret 2026 – Ancaman malaria kembali menghantui wilayah perbatasan. Tak ingin kecolongan, Dinas Kesehatan Kabupaten Pasangkayu bergerak cepat turun langsung ke titik rawan penyebaran di Lingkungan Lumbung Merta, Kelurahan Martajaya, hingga Desa Ako.
Langkah ini bukan sekadar kunjungan biasa. Bersama Puskesmas Pasangkayu 2, tim kesehatan melakukan penyelidikan epidemiologi menyeluruh untuk menelusuri sumber penularan sekaligus memastikan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.
Tim yang turun langsung dipimpin oleh dr. Imran selaku Kepala Bidang P2M Dinas Kesehatan Pasangkayu, didampingi Andi Eva sebagai Kasi P2M, Carolin selaku Pengelola Program Malaria Kabupaten, serta Anjas Trianggo Susilo Utomo, S.Farm., Apt selaku Kepala Puskesmas Pasangkayu 2.
Kegiatan ini juga diperkuat oleh tenaga kesehatan lainnya, yakni Hasnah, S.Kep., Ns sebagai Pengelola Program Malaria Puskesmas Pasangkayu 2, Hijrah dari tim surveilans, serta Ruslan, S.Kep., Ns.
Kelambu Jadi “Perisai Hidup” Warga
Tak hanya melakukan pemeriksaan dan pemantauan, tim kesehatan juga langsung memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta melindungi diri dari gigitan nyamuk.
Sebagai langkah nyata, warga dibekali kelambu anti nyamuk yang menjadi perlindungan utama saat tidur malam. Diketahui, nyamuk Anopheles penyebab malaria aktif menggigit pada malam hari.
Penggunaan kelambu ini diharapkan mampu menekan risiko penularan secara signifikan di wilayah yang mulai terindikasi rawan.
Gejala Malaria Jangan Diabaikan
Petugas kesehatan juga mengingatkan warga untuk lebih waspada terhadap gejala malaria seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas.
Masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan jika mengalami gejala tersebut, dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan cepat dan tepat.
Wilayah Perbatasan Jadi Tantangan Serius
Upaya pengendalian malaria di Pasangkayu menghadapi tantangan tersendiri karena sebagian wilayah terdampak berada di kawasan perbatasan dengan Sulawesi Tengah.
Mobilitas masyarakat antarwilayah yang cukup tinggi dinilai berpotensi mempercepat penyebaran penyakit, sehingga diperlukan sinergi kuat antara Dinas Kesehatan Kabupaten Pasangkayu dan Dinas Kesehatan wilayah Sulawesi Tengah.
Kabar Baik dari Warga: Pasien Sembuh
Di tengah upaya penanganan tersebut, kabar baik datang dari Desa Ako. Seorang warga bernama Supomo yang sebelumnya dirawat akibat malaria di RSUD Ako Pasangkayu, kini telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan selama satu minggu.
Dengan penuh rasa syukur, Supomo menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan dan pemerintah.
“Terima kasih kepada tenaga kesehatan yang sudah merawat saya, serta pemerintah yang telah membantu masyarakat dengan kelambu. Ini sangat membantu kami untuk mencegah malaria,” ungkapnya.
Perang Melawan Malaria Butuh Peran Semua Pihak
Langkah cepat Dinas Kesehatan Pasangkayu menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menangani ancaman malaria. Namun, keberhasilan memutus rantai penularan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah semata.
Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama—mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air, hingga menggunakan kelambu secara rutin saat tidur.
Perang melawan malaria belum usai. Tapi dengan kolaborasi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, harapan untuk menekan penyebaran penyakit ini tetap terbuka lebar. (EL)
