Pendiri OTISTA Poly Betaubun Kecam Dugaan Penghinaan terhadap Institusi Negara, Serukan Ormas Junjung Etika
JAKARTA — Pendiri Organisasi Timur dan Sumatera (OTISTA), Poly Betaubun, S.H., menyayangkan beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan seorang pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) diduga melontarkan kata-kata kasar dan pernyataan bernada ancaman terhadap institusi pemerintah serta seorang Menteri Republik Indonesia.
Poly menegaskan, kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional, tetapi harus dijalankan dengan mengedepankan etika, kesantunan dan penghormatan terhadap hukum serta institusi negara.
“Ormas harus menjadi mitra kritis yang konstruktif, bukan mempertontonkan perilaku yang berpotensi merusak persatuan. Kritik boleh keras, tetapi harus tetap beretika dan disampaikan melalui jalur yang konstitusional,” tegas Poly.
Ia juga meminta aparat penegak hukum menelaah dugaan pelanggaran secara objektif dan profesional. Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri diharapkan menjalankan fungsi pembinaan ormas sesuai kewenangannya apabila ditemukan pelanggaran.
Poly mengimbau seluruh kader OTISTA di Indonesia agar tetap tenang, tidak terprovokasi, serta menjaga persatuan dan ketertiban. Ia menegaskan OTISTA berkomitmen menjadi organisasi yang disiplin, santun, cinta damai dan konsisten menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Ormas besar seharusnya membesarkan hati, bukan membesarkan makian. Kritik boleh keras, tetapi etika harus tetap dijaga. Kebesaran organisasi ditentukan oleh integritas, kontribusi, dan tanggung jawabnya kepada masyarakat serta bangsa,” tutup Poly Betaubun.
Poly Betaubun, Pendiri Organisasi Timur dan Sumatera (OTISTA)

