DIAM-DIAM BERBAHAYA! Pola Lebaran Ini Disebut dr. Jusuf Bisa Picu Masalah Serius
Jakarta – Di tengah suasana Lebaran yang penuh kebahagiaan, ada satu hal yang luput dari perhatian banyak orang: pola hidup yang berubah drastis dan berisiko bagi kesehatan.
Tanpa disadari, kebiasaan yang dianggap normal saat Lebaran justru bisa menjadi pemicu berbagai gangguan dalam tubuh. Mulai dari makan berlebihan, konsumsi gula tinggi, hingga minimnya aktivitas fisik.
Dalam program Jendela Negeri yang tayang pada Selasa (24/3/2026), dr. Jusuf Kristianto menyoroti fenomena ini sebagai pola yang berbahaya namun sering dianggap wajar.
“Yang terjadi setiap tahun itu sama. Setelah Lebaran, banyak yang mengeluh kesehatan menurun. Ini bukan kebetulan,” ungkapnya.
Kebiasaan yang Terlihat Sepele, Dampaknya Nyata
Lebaran sering menjadi momen di mana kontrol diri melemah. Hidangan berlimpah, suasana santai, dan dorongan sosial membuat banyak orang makan tanpa batas.
Tidak sedikit yang:
- Mengonsumsi makanan tinggi lemak dan santan secara berulang
- Minum minuman manis sepanjang hari
- Mengabaikan porsi dan waktu makan
Kondisi ini membuat tubuh mengalami “shock” akibat perubahan mendadak dari pola puasa ke pola konsumsi berlebih.
“Tubuh itu butuh penyesuaian. Kalau langsung dipaksa, pasti ada dampaknya,” jelas dr. Jusuf.
Lonjakan Risiko Setelah Hari Raya
Menurut dr. Jusuf, efek dari kebiasaan tersebut tidak selalu langsung terasa saat Lebaran. Justru, gejalanya sering muncul beberapa hari setelahnya.
Beberapa risiko yang sering terjadi antara lain:
- Kenaikan gula darah
- Peningkatan kolesterol
- Gangguan pencernaan
- Penurunan energi tubuh
Hal ini diperparah dengan kebiasaan kurang gerak setelah makan.
Gaya Hidup Pasif: Pemicu yang Sering Diabaikan
Selain makanan, faktor lain yang tidak kalah penting adalah aktivitas fisik.
Selama Lebaran, banyak orang lebih banyak duduk, berbincang, atau beristirahat. Aktivitas fisik berkurang drastis, sementara asupan meningkat tajam.
“Kita makan banyak, tapi tidak diimbangi gerak. Ini yang membuat risiko semakin tinggi,” tegasnya.
Bukan Soal Makanan, Tapi Cara Menyikapi
Dr. Jusuf menekankan bahwa makanan Lebaran bukanlah musuh. Yang menjadi masalah adalah cara mengonsumsinya.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan:
- Mengontrol porsi makan
- Tidak tergoda untuk mengambil semua hidangan
- Menjaga keseimbangan antara makan dan aktivitas
- Tetap memperhatikan kebutuhan tubuh
Menurutnya, kesadaran inilah yang menjadi kunci utama.
Pesan Tegas: Jangan Tunggu Sakit Baru Peduli
Di akhir pernyataannya, dr. Jusuf memberikan peringatan yang cukup keras.
Banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan setelah tubuh memberikan “alarm”.
“Lebaran itu bukan alasan untuk lepas kontrol. Kalau sudah sakit, baru terasa pentingnya menjaga diri,” ujarnya.
Penutup: Waspada di Tengah Euforia
Lebaran memang momen kebahagiaan. Namun tanpa disadari, euforia yang berlebihan bisa membawa dampak yang tidak diinginkan.
Menikmati boleh, tapi tetap dengan kendali.
Karena kesehatan bukan sesuatu yang bisa diganti—dan sering kali baru disadari nilainya ketika mulai hilang.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
