SAMPANG — Alih-alih menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa, pembangunan Gedung Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Sampang justru menuai tanda tanya besar. Proyek bernilai miliaran rupiah itu kini disorot karena progresnya yang dinilai jalan di tempat.
Hingga Kamis (19/03/2026), kondisi fisik bangunan masih jauh dari selesai. Sejumlah bagian penting terlihat belum tersentuh tuntas—mulai dari pekerjaan akhir (finishing), instalasi, hingga penataan interior yang masih terbengkalai.
Kontras antara besarnya anggaran dan kondisi di lapangan memicu reaksi publik. Warga mulai mempertanyakan: ke mana arah proyek ini sebenarnya?
“Kalau ini dibiarkan, kesannya seperti proyek tanpa kendali. Anggaran besar, tapi hasil belum jelas,” kata seorang warga.
Kritik kian tajam karena minimnya informasi yang bisa diakses masyarakat. Di lokasi proyek, tidak tampak papan informasi yang memadai. Detail anggaran, waktu pelaksanaan, hingga target penyelesaian pun seolah menjadi “ruang kosong” yang tidak terjawab.
Situasi ini membuat proyek Kopdes tidak hanya dipandang sebagai pembangunan fisik, tetapi juga ujian transparansi pengelolaan anggaran publik.
Di tengah semangat pembangunan desa yang digaungkan pemerintah, kondisi ini justru menimbulkan ironi. Gedung yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, hingga kini belum bisa dimanfaatkan.
“Harusnya ini jadi pusat kegiatan ekonomi warga. Tapi sekarang malah jadi bangunan setengah jadi yang tidak jelas kapan difungsikan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Keterlambatan yang terjadi memunculkan dugaan adanya persoalan serius dalam pelaksanaan proyek—baik dari sisi perencanaan, manajemen, maupun pengawasan. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait.
Ketiadaan penjelasan ini justru memperbesar gelombang kecurigaan. Sejumlah pihak mulai mendorong agar dilakukan audit terbuka guna memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai aturan.
“Transparansi itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Kalau tidak dibuka, publik berhak curiga,” tegas seorang aktivis di Jawa Timur.
Kini, sorotan terhadap proyek Gedung Kopdes Merah Putih di Sampang semakin menguat. Bukan hanya soal bangunan yang belum rampung, tetapi juga tentang kepercayaan publik yang dipertaruhkan.
Di tengah desakan yang terus mengalir, masyarakat menunggu langkah nyata: penjelasan, keterbukaan, dan kepastian.
Sebab jika tidak, proyek ini berisiko menjadi lebih dari sekadar pembangunan yang tertunda—melainkan simbol dari harapan yang tak kunjung terwujud.
(Tim Redaksi)
